Gap Komunikasi Banjir di Baleendah

Bukan hanya Baleendah, kecamatan lain seperti Dayeuhkolot dan Bojongsoang juga, jika banjir tiba sama mengalami kenestapaan.   Desa Cieunteung menjadi top hitnya kalau berbicara banjir.

Secara umum warga menyadari, memang daerahnya banjir.

Gap komunikasi antara warga terdampak dan Pemerintah antara lain :

Bicara banjir di Bandung Selatan, selalu terhubung dengan bekas danau purba dan banjir adalah sesuatu yang given, sudah begitu dan memang “harus begitu”.

Upaya yang direncanakan dan dibahas dalam berbagai ragam diskusi, selalu perhitungan banjir besar.  Padahal, banjir besar terjadi satu kali dalam satu tahun.  Itu juga dalam periode paling lama 2 minggu.

Namun, fakta yang jarang dibahas adalah banjir sedang dan banjir kecil.  Banjir sedang juga mencapai jalan Dayeuhkolot dan bisa 6-10 kali di alami sedang banjir kecil, akibat intensitas hujan lokal tinggi atau salah satu sungai banjir.  Ini bisa terjadi 10-15 kali, nyaris sepanjang musim penghujan.

Tingkat kebahayaan banjir besar sudah jelas, banjir sedang dan menengah, sudah tak ada lagi relawan yang membantu.  Yang bantupun sudah bosan.  Namun, banjir sedang dan kecil lah yang membuat warga terpapar berkepanjangan.

Banjir besar, okelah, negara maju sekalipun kalau banjir besar yang tergenang dan limpas juga.  Infrastruktur dan perabotan milik masyarakat juga bisa luluh lantak.

Tapi, banjir sedang dan kecil?.  Apakah tidak bisa diatasi.  Masalahnya kerap tidak terlalu berat.  Ini soal saluran air buangan yang tertutup lumpur atau tidak digunakan lagi (?).  Soal lubang-lubang banjir yang sengaja atau tidak, menyebabkan banjir.

Seharusnya, banjir sedang dan kecil ini bisa diatasi oleh Pemerintah bersama warga.  Ini gambar foto dari bencana-bencana yang tidak limpas bantaran atau pintu air, tapi jadi jalan masuk banjir, karena memang daratan yang ada relatif sama tinggi dengan muka air banjir menengah :

Sebelah kiri, adalah dinding turap di dekat muara S.Cisangkuy.  Dilubangi oleh masyarakat agar saat banjir surut air keluar lagi ke sungai.  Tapi, dibiarkan tanpa pintu air, sehingga waktu banjir datang lagi, tidak ada pertahanan sama sekali.
Sebelah kanan adalah selokan buangan ke Citarum.  Air naik setengah meter saja sudah akan menyebabkan masuk ke perkampungan.

Ini berlangsung bertahun-tahun.

Tidakkah seharusnya ini bisa ditangani oleh Pemerintah Kabupaten atau Pemprov.  Wargapun seharusnya bisa secara swadaya berjuang.  Namun, rasa frustasi oleh banjir dan mengatasi rumah demi rumah oleh masing-masing warga, membuat usaha bersama tidak atau belum terwujud.

Semoga ke depan menjadi lebih baik.

 

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s